15.11.11

Sebab Hilangnya Rasa Nikmat Dalam Ibadah Dan Solusinya

Bersama: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan: Apakah sebab hilanya rasa nikmat dalam ibadah dan solusinya secara amaliyah?

Jawaban Yang Mulia Syaikh Ibnu Baz rahimahullah:
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Wa sallallahu wa sallam ‘ala rasulillah wa ashabihi wamanihtada bihudahu. Amma ba’du:
Tidak diragukan lagi bahwa ibadah karena Allah mempunyai kenikmatan yang agung dalam hati seorang mukmin lelaki dan perempuan. Nabi yang mulia ‘alahishahalatu wassalam bersabda:
وجعلت قرة عيني في الصلاة
“Dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.”
Beliau bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:
أرحنا بالصلاة
“Berilah kami kelapangan dengan shalat.”
Maksudnya: tegakkan shalat hingga kita bisa refleshing di dalam shalat.
Maka shalat adalah ibadah yang agung setelah dua syahadat, merupakan kelapangan untuk hati dan penyejuk mata, dan kenikmatan untuk ruh bagi orang yang menghadapkan diri kepada shalat, menghadirkan hatinya dalam shalat, dan khusyu’ didalamnya untuk Allah, dengan menyadari bahwa shalat adalah tiang Islam, dan bahwa shalat adalah satu munajat kepada Allah ‘azza wa jalla dan berdiri di hadapan Allah. Sehingga dengan itu fis merasa lapang dalam shalat dan sejuk matanya, dia mendapatkan kenikmatan karena shalat dalam jiwanya, dalam berdirinya, bacaannya, rukuknya, sujudnya dan seluruh perkara yang Allah syariatkan dalam shalat.
Nasehatku untuk setiap mukmin laki-laki dan perempuan untuk menghadapkan diri kepada ibadah baik berupa shalat dan lainnya, menghadirkan hati dalam shalat, dan menyadari bahwa dia melakukan menunaikannya karena Allah saja, mengharap pahalanya dan takut siksanya, dan bahwa dalam hal itu ada kebaikan yang besar baginya di sisi Allah, jika dia mengikhlaskan untuknya dan menunaikannya sesuai dengan sunnah, tidak menurut bi’dah.
Maka shalat, zakat, shadakah, puasa, haji, umrah, dzikir yang disyariatkan, membaca al-Qur’an al-Karim, berdakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar, semuanya adalah ibadah yang memiliki kenikmatan yang agung dalam hati, rasa kelapangan dalam hati, kenikmatan dalam ruh, dimana seorang mukmin mengingat-ingat dalam shalat bahwa dia melakukan sesuatu yang Allah ridhai, sesuatu yang diperintahkan Allah, sesuatu yang diberi pahala di sisi Allah, sehingga dia merasa lapang karena hal itu dan merasakan kenikmatan dengan hal itu, jiwanya merasa tenang dengan hal itu. Karena di dalamnya ada kebaikan yang agung. Dan karena di dalamnya adalah pelaksanaan perintah Allah. Karena di dalamnya ada kebaikan yang agung dari sisi pahala yang besar dari Allah. Dan dari sisi penghapusan kesalahan yang mengiringinya, dihapuskannya dosa-dosa dan kesuksesan dengan mendapat surga dan selamat dari neraka.
Demikian juga maslahat ibadah yang mengiringi dakwah kepada Allah dan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan mengarahkan mereka kepada kebaikan, membantu mereka untuk menunaikan perkara yang disyariatkan Allah dan meninggalkan mereka apa yang diharamkan Allah.
Semua ini termasuk perkara yang memberikan kenikmatan kepada jiwa-jiwa yang thayyibah, memberikan kelapangan hati, menyejukkan mata, aku maksudkan mata orang beriman lelaki dan perempuan.
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang agung:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ * أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4)
Dan Nabi ‘alahish shalatu wasalam bersabda (yang artinya):
“Tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada satu hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
1.    Penguasa yang adil, dia adil karena takut kepada Allah dan raja (berharap) kepada Allah
2.    Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, dia merasa nikmat dengan ibadah tersebut karena mengetahui bahwa ibadah itu berisi kebaikan, karena dalam hatinya ada pengagungan terhadap Allah, keikhlasan karena Allah, kecintaan kepada Allah, rasa raghbah (harap) pada apa yang ada disisinya.
3.    Seseorang yang bergantung hatinya dengan masjid. Dia bergantung hatinya dengan masjid karena dia mendapati dalam shalat ada kebaikan, kelapangan, ketenangan, dan kenikmatan.
4.    Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, bersatu karena rasa cinta karena Allah dan berpisah karena rasa cinta karena Allah. Karena keduanya mendapati dalam rasa cinta karena Allah ada kebaikan yang agung dan kelapangan dalam hati, kenikmatan ruh dan kerekatan yang agung, karena mereka mengetahui bahwa perkara ini membuat Allah ridha, dan Allah mensyariatkan hal itu bagi mereka, dan membuahkan kebaikan yang agung yang diketahui Allah, baik berupa saling tolong-menolong, saling memberi wasiat dengan kebenaran dan saling menasehati.
5.    Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang punya kedudukan dan kecantikan, kemudian lelaki itu menjawab: Aku sunnguh takut kepada Allah. Kenapa dia mengatakan hal ini? Karena di dalam hatinya ada kecintaan kepada Allah dan pengagungan-Nya, rasa takut kepada-Nya, merasa selalu diawasi Allah, sehingga dia meninggalkan wanita yang mengajaknya berbuat zina ini, padahal wanita itu berkedudukan dan cantik, namun dia enggan karena takut kepada Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya dan merasa senang dengan taat kepada-Nya, merasa nikmat dengan perkara yang diridhai Allah. Demikian juga seorang wanita bila diajak oleh seorang lelaki berkedudukan dan tampan untuk melakukan zina, kemudian wanita itu menjawab: Aku sungguh takut kepada Allah. Wanita itu meninggalkan hal itu karena di dalam hatinya ada kcintaan kepada Allah, kenikmatan ruhani dan kenikmatan dengan taat kepada Allah serta ittiba (mengikuti) syariat-Nya.
6.    Seorang yang bersedekah dengan sedekah yang dia sembunyikan hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya. Kenapa? Karena di dalam hatinya da kecintaan kepada Allah dan pengagungan kepada-Nya, dan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu dan tidak ada yang tersembunyi sesuatupun atas Allah, dan bahwa Allah mencintai keikhlasan karena Allah, dan Dia mencintai amalan karena-Nya secara sirr, sampai tangan kirinya tidak mengetahui yang diberika tangan kanannya, karena besarnya keikhlasannya, besarnya rasa harap dia dengan yang ada di sisi Allah, dan dia tidak peduli dengan rasa pamer kepada orang lain, dengan pujian orang lain dan sanjungan orang lain.
7.    Seorang yang meningat Allah ketika sendirian, tidak ada seorangpun di sisinya, kemudian menetes kedua matanya karena takut kepada Allah dan mengagungkan Allah dan cinta karena Allah, merasa senang dengan Allah. Kemudian menjadi tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya.
Intinya bahwa menghadapkan diri kepada Allah dalam ibadah dan menghadirkan rasa pengagungan kepada Allah, dan bahwa engkau menginginkan Wajah-Nya Yang Mulia, dan bahwa engkau melakukan hal ini karena mengharap keridhaan-Nya, taat kepada-Nya, cinta karena-Nya, bersemangat atas perkara yang Allah ridhai dan mendekatkan kepada-Nya. Semua ini termasuk perkara yang menjadikan engkau merasa nikmat dengan ibadah, dan menhadapkan diri kepadanya, merasa lapang dengannya, merasa nikmat dengannya. Semoga Allah memberikan taufik semuanya.
Penanya: Orang yang mengeluhkan kebalikan hal itu, wahai syaikh? Semoga Allah membalas kebaikan anda.
Syaikh menjawab: Orang yang mengeluhkan kebalikan dari hal itu berupa kerasnya hati, hendaknya dia mengobati dirinya dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an al-Karim, berhati-hati dari dosa dan kemaksiatan, taubat kepada Allah dari yang telah lewat dengen kejujuran dalam hal itu. Jika jujur bersama Allah dalam taubat dari kemaksiatan, dalam memperbanyak dzikir kepada Allah, dalam menghadapkan diri kepada ibadah kepada Allah dengan hatinya dan menhadirkan keagungan Allah, dan bahwa Allah mengawasinya, sesungguhnya Allah mengawasi segala sesuatu, dan bersamanaya ada dua malaikat, salah satunya menulis kebaikan dan yang kedua menulis kejelekan. Dengan dia mengingat perkara-perkara ini, akan lembut hatinya, khusyu hatinya, dan dia merasa nikmat dengan ketaatan, dan merasa lapang dengannya dan sedang dengannya.
Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17396 melalui http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=120386

Tidak ada komentar:

Posting Komentar