7.10.09

Perhatian dengan Ilmu Agama

Bersama: Syaikh Sholih Alusy Syaikh Hafizhahulloh
Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji bagi Allah. Semoga Sholawat dan salam tercurah kepada Rosulullah, keluarganya, para shohabatnya dan orang-orang yang mengambil petunjuknya. Adapun sesudah itu:

Sesungguhnya perhatian dengan ilmu, mencintai ilmu, semangat terhadap ilmu, dan menghadapkan diri kepada ilmu adalah sebuah petunjuk sehatnya hati, karena hati jika sehat bagi dirinya dan mengetahui apa yang memberikan manfaat padanya, maka hati itu akan semangat terhadap ilmu. Yang demikian itu karena Allah جل جلاله memuji ahlul ilmi dan mengangkat mereka di atas orang selain mereka dengan beberapa derajat. Allah سبحانه berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)




Dan Allah جل وعلا berfirman:
أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو
“Ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Robbnya? Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)


Maka tidak adanya kesamaan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, ini hanya diperhatikan dan dipahami oleh orang-orang yang berakal. “Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” Sedangkan orang yang jahil (tidak berilmu), maka dia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak berilmu, dan merasa cukup dengan kebodohan. Kemudian dia tidak mengetahui makna ilmu dan pentingnya ilmu, dan bahwa ilmu ada kemuliaan terbesar di dalam kehidupan ini.


Oleh karena itu para ulama berkata: termasuk yang menunjukkan pentingnya ilmu bahwa Allah جل جلاله tidak memerintahkan Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berdoa minta tambahan dari sesuatu kecuali dari ilmu. Allah سبحانه berfirman kepada Nabi-Nya:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah: "Ya Robbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thoha: 114)


Allah tidak memerintahkan beliau untuk minta tambah atau berdoa minta tambah dari selain ilmu. Cukuplah hal itu sebagai kemuliaan.


Macam-Macam Orang Dalam Mengambil Ilmu
Ilmu ini, banyak orang yang bersama-sama dalam perhatian dengannya, tetapi tidak sama dalam pengambilannya, dan juga dalam metode pengambilannya. Mereka berada dalam tingkatan-tingkatan.


1. Di antara mereka ada yang terburu-buru yang mengira ilmu diperoleh selama waktu hitungan jari atau dalam beberapa bulan, atau dalam beberapa tahun tertentu. Ini jauh dari kebenaran, karena ilmu tidak mempunyai ujung sampai seseorang mati, dan masih tersisa banyak hal dari ilmu yang tidak dia ketahui. Sesungguhnya ilmu itu ujungnya panjang lebar dan sisi-sisinya luas.


Allah Dialah yang mempunyai ilmu yang sempurna. Dia memberikan pada sekumpulan manusia, dengan memberi mereka sebagian ilmu-Nya. Orang ini terluput darinya sesuatu dari ilmu. Orang itu terluput darinya sesuatu dari ilmu. Akan tetapi kumpulan mereka kalau ilmu yang ada padanya dikumpulkan, maka itu merupakan sesuatu yang sedikit sekali dibanding ilmu Allah, sebagaimana engkau meletakkan jarum di samudra, kemudian engkau mengeluarkannya, maka engkau tidak mengurangi air samudra itu sedikitpun.




Menuntut Ilmu Secara Berjenjang
Jika hal itu demikian, maka sesungguhnya pengambilan ilmu tidak mungkin secara kesuluruhan, tetapi sepantasnya seorang penuntut ilmu untuk berjenjang di dalam ilmu. Dan jenjang adalah sebuah ketetapan yang mesti. Itu adalah sebuah sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sunnah para shohabat. Dan itu adalah sunnah ahlul ilmi sesudah mereka.


Maka Nabi عليه الصلاة والسلام tidak mengajari ilmu kepada shohabat dalam satu keseluruhan, tetapi beliau mengajari mereka dalam masa bertahun-tahun. Di Mekkah beliau mengajari mereka dengan pokok-pokok yang mendasar yang dengannya terwujud keselamatan dan kesehatan hati, keselamatan dan kesehatan akal, yaitu ilmu tauhidullah جل جلاله dan berlepas diri dari setiap yang selain Allah جل وعلا.


Kemudian setelah itu, ilmu datang sedikit demi sedikit kepada para shohabat Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap orang mengambil ilmu sesuai yang mudah baginya dan yang ditakdirkan baginya. Demikianlah ahlul ilmi setelah para shohabat. Engkau tidak akan temukan mereka itu mencebur dalam ilmu dengan sekali ceburan. Di antara mereka ada yang unggul dalam ilmu bahasa arab. Di antara mereka ada yang unggul dalam ilmu ushul. Di antara mereka ada yang unggul dalam iilmu tafsir. Di antara mereka ada yang unggul di dalam ilmu hadits. Di antara mereka ada yang unggul dalam ilmu alat yang lain, seperti ilmu mustolah dan semisalnya. Di antara mereka ada yang unggul dalam ilmu fiqih. Dan demikian dalam berbagai ilmu yang lain.


Jika hal itu demikian, wasiat Ibnu Syihab Az-Zuhri yang mesti kita hapal, wasiat beliau adalah sebaik-baik wasiat, ketika beliau berkata:
“Barangsiapa yang mengambil ilmu secara keseluruhan, maka akan hilang darinya keseluruhan. Sesungguhnya ilmu dicari selama lewatnya siang dan malam.”
Maka orang-orang yang terburu-buru tidak akan memperoleh ilmu. Jadi, harus dengan berjenjang.


2. Kemudian di sana ada segolongan lain dari para pemuda atau dari penuntut ilmu. Mereka ini orang yang mencicipi ilmu. Mereka ini mengambil ilmu sedikit sedikit. Dia datang dan menuntut satu ilmu apapun dalam satu waktu yang sedikit, kemudian datang dan menghukumi ilmu ini atau menghukumi orang yang mengajari ilmu itu. Dan juga berpindah kepada ilmu yang lain, kemudian menghukumi ilmu yang lain itu dan menghukumi orang yang mengajari ilmu yang lain itu.


Ini adalah petunjuk kurangnya ilmu dan kurangnya pemahaman dan akal, karena ilmu-ilmu itu tidak dihukumi, kecuali oleh orang yang menghimpunnya dari seluruh sisi-sisinya dan meliputi ilmu-ilmu itu, dan ini tidak mudah bagi kebanyakan para pemuda yang mencicipi ilmu.


Engkau dapati dia dalam satu waktu, dalam beberapa bulan atau satu tahun, menghadiri majlis Fulan dari ahlul ilmi, atau dari para pengajar dari penuntut ilmu, kemudian menghukumi atas dirinya atau atas pengajar itu bahwa dia demikian dan demikian, kemudian berpindah kepada yang lain. Kemudian pada akhirnya pemuda jenis ini putus asa dan tidak memperoleh ilmu yang banyak. Hal itu, karena dia terburu-buru dan dia mencicipi ilmu. Mencicipi ilmu dengan arti banyak berpindah. Mengambil dari yang ini sedikit, mengambil dari yang itu sedikit. Demikian ini, tidaklah orang itu akan menjadi ulama dan juga tidak menjadi penuntut ilmu. Hanyalah itu seperti dikatakan orang-orang awal: Dia akan menjadi ahli adab, karena mereka mengetahui adab dengan dia mengambil satu sisi dari setiap ilmu. Dan ini termasuk yang tidak sepantasnya untuk ditempuh.


Maksudnya: hendaknya seorang penuntut ilmu yang menginginkan kebenaran dalam ilmu dan kebenaran dalam menempuh menuntut ilmu, tidak sepantasnya untuk menjadi orang yang mencicipi ilmu. Jadi, jalannya kembali kepada metode dimana dia membekali dirinya menempuh secara berjenjang dalam ilmu. Membekali diri, perkaranya sangat besar, yaitu membekali dengan ilmu dan membekali para penuntut ilmu, dan dengan menghapal sebagaimana orang-orang awal menghapal.


Pelajaran dari Kisah Para Ulama dalam Menuntut Ilmu
Maka lihatlah –jika engkau mengambil pelajaran-, lihatlah kepada kitab-kitab riwayat hidup, dimana para penulis itu membawakan riwayat hidup seorang ulama, engkau dapati dia berada dalam satu riwayat hidup seorang imam dari para imam, dan seorang hafizh dari para hafizh. Engkau dapati bahwa mereka dalam awal-awal riwayat hidupnya, bahwa dia membaca kitab demikian dari kitab-kitab yang pendek dari matan-matan yang ringkas, dan dia membaca kitab demikian dan menghapal demikian, dan menghapal demikian. Kenapa mereka menyebutkan hal ini dan menjadikan hal ini sebagai keutamaan bagi mereka itu?
Karena menghapal matan-matan itu dan membaca ringkasan-ringkasan itu adalah sebuah metode ilmu dalam kenyataan. Dan ini adalah sebuah sunnah para ulama. Dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka dia telah meninggalkan sunnah para ulama dalam masalah ilmu dan belajar semenjak ilmu bercabang-cabang setelah generasi keempat hijriyah. Oleh karena ini, sepantasnya engkau untuk bersemangat untuk pelan-pelan dalam menuntut ilmu, dan untuk menetukan apa yang engkau dengar dan engkau baca sedikit demi sedikit.


Tidak hanya perhatian dengan kuantitas ilmu tanpa pemahaman
Dan termasuk perkara yang penting juga agar engkau tidak memasukkan ke dalam akalmu kecuali bentuk yang benar dari ilmu. Engkau tidak perhatian dengan banyaknya pengetahuan, dengan kadar yang engkau perhatian dengannya, dengan tidak memasukkan ke dalam akalmu kecuali bentuk yang benar dari ilmu. Jika engkau menginginkan untuk menggapainya, maka engkau menggapainya dengan memakai hujjah, dengan mengingat, atau dengan mengambil faedah, sehingga engkau menggapainya dengan cara yang benar.
Adapun jika engkau memasukkan dalam akalmu banyak permasalahan, jika datang diskusi, engkau perhatikan dirimu bahwa permasalahan ini tidak engkau pahami sesuai tempatnya. Dan yang kedua tidak engkau pahami sesuai tempatnya. Permasalahan itu mempunyai syarat yang engkau tidak perhatian dengannya. Permasalahan itu mempunyai ketentuan-ketentuan yang engkau tidak perhatian dengannya. Sehingga gambaran-gambarannya di dalam pikiran menjadi banyak. Dan permasalahan-permasalahan itu menjadi banyak. Tetapi permasalahan-permasalahan itu tidak kokoh, dan itu bukanlah ilmu.


Ilmu itu hanyalah jika gambaran dalam pikiran untuk satu masalah ilmiyah kokoh dari sisi gambaran, yaitu gambaran masalah, dan dari sisi hukum, dan dari sisi dalil, dan dari sisi istidlal.
Dan keempat perkara ini sangat perlu engkau perhatikan. Aku ulangi.
Pertama: Gambaran masalah.
Kedua: hukum masalah dalam ilmu apa, dalam ilmu fiqih, atau ilmu hadits, atau ilmu mustolah, atau ilmu ushul, atau ilmu nahwu, atau ilmu tafsir, dan lainnya. Hukum masalah.
Ketiga: dalilnya, apakah dalil orang yang berpendapat demikian dan demikian ini.
Keempat: apa sisi istidlalnya? Dia beristidlal dengan sebuah dalil. Bagaimana dia memakai pemahamannya dalam dalil ini, kemudian dia mengistimbatkan (menyimpulkan) hukum darinya? Jika engkau biasakan pikiranmu atas empat perkara ini, engkau akan menempuh jalan yang baik dalam memahami ilmu.
Dan yang meliputi hal itu adalah perhatian dengan bahasa arab dan perhatian dengan lafadz-lafadz ulama, karena orang yang tidak perhatian dengan lafadz-lafadz ulama dan dengan bahasa ilmu, dia tidak memahami apa yang diinginkan mereka dari ucapan mereka.


Demikian nasehat ini, karena sebagian ikhwah menginginkan nasehat ini sebagai pendahuluan pelajaran ini, sampai berkumpul orang-orang yang ingin menghadairi pelajaran tauhid. Kalau disediakan kita jadikan pada setiap hari 10 menit dalam menjelaskan wasiat, atau dalam menjelaskan sesuatu yang kalian perlu perhatikan, sungguh hal itu akan sesuai, insya Allah ta’ala. Semoga sholawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad.


(Diterjemahkan dari Transkrip Syarh Kitab At-Tauhid bersama Syaikh Sholih Alusy Syaikh hafizhahullah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar